Selasa, 05 Juli 2022

Surat Cinta Ning Alfiyatus Zahro' Layar 2

 

SURAT CINTA NING ALFIYATUZ ZAHRO'

Layar 2    

Surat Kertas Pesawat Terbang

Pesantren Darul Ghuroba' ini usianya sudah cukup tua. Sejak berdiri hingga sekarang pesantren ini sudah mengelola delapan asrama. Empat asrama dihuni santri putra. Empat asrama sisanya ditempati santri putri. Masing-masing asrama memiliki pengasuh, yaitu putra dan putri kiai sepuh.

Meskipun dianggap sebagai generasi kedua, tetapi putra dan putri kiai sepuh sudah disiapkan secara matang sebagai penerus keluarga yang akan memikul amanah dalam mendidik generasi bangsa. Selain itu, di keluarga ndalem[i] sudah lahir dan tumbuh generasi ketiga dan keempat. Sama halnya dengan generasi kedua, mereka juga ditempa untuk mengemban amanah dalam perjuangan mendidik generasi penerus bangsa. Generasi ketiga saat ini kebanyakan masih kuliah, sekolah, dan beberapa ada yang masih balita, sedangkan generasi keempat adalah para cicit yang semuanya masih balita.

Dalam mendidik para penerus, kiai sepuh beserta putra dan putrinya memberikan kebebasan. Beberapa dari mereka ada yang mondok di tempat lain. Namun, ada juga yang membaur dengan santri dan mengenyam pendidikan di pesantren sendiri. Bahkan, beberapa dari mereka tinggal di gotha'an [ii]bersama santri, bersikap dan bertindak sebagai santri biasa seperti lainnya.

 "Gus Falih itu ternyata kawan akrab Gus Shihab, loh, Ning. Mereka satu angkatan di Ma'had Aly," ujar Nafisah memulai percakapan dengan Ning Alfi sesudah sorogan kitab Fathul Mu’in di kelas Syawir.

 

Mereka berjalan di lorong gedung madrasah aliyah. Kalau malam, gedung ini beralih fungsi menjadi ruang kelas madrasah diniah. Dua santri itu terus berjalan menuju kantin induk pesantren.

"Loh, kok bisa update informasi lagi?" Ning Alfi memandang sahabatnya itu dengan keheranan.

"Tadi habis sorogan aku tanya ke Gus Shihab," ujar Nafisah dengan bangga.

"Hah? Kamu berani tanya urusan remeh kayak gitu ke beliau?" Ning Alfi membelalakkan mata saking kagetnya.

Gus Shihab adalah cucu Mbah Kiai Anwar, pendiri pesantren ini. Beliau masih muda dan jomblo. Salah satu dzurriyyah[iii] yang tinggal di asrama bersama santri dan memiliki tugas mengajar.

"Iyalah," tukas Nafisah.

"Caramu tanya bagaimana?" Ning Alfi makin keheranan dengan tingkah Nafisah yang menurutnya su'ul adab[iv].

"Aku bilang kalau njenengan naksir Gus Falih. Makanya aku titip salam dari njenengan. Eh, Gus Shihab malah bilang supaya jangan naksir Gus Falih. Malah, terus balik titip salam buat njenengan. Ning Alfi sama aku saja. Begitu katanya."

Nafisah bicara dengan tampang polos sembari duduk di bangku panjang kantin.

Tangannya mencomot tahu isi di tangan kiri dan cabe di tangan kanan seraya menggigit rawit merah itu tanpa memedulikan ekspresi Ning Alfi.

"Kamu ini isengnya kebangetan. Pantas saja Gus Shihab senyum-senyum pas nyimak sorogan-ku tadi,” sungut Ning Alfi. “Eh, itu makan mbok yang sopan, pakai tangan kanan!" Ning Alfi gemas, antara marah dan tersinggung. Namun, juga ingin tertawa mengingat ekspresi wajah Gus Shihab.

 

Diacak-acaknya jilbab Nafisah meskipun gadis itu sedang menahan pedas karena terlalu banyak makan cabai. Ning Alfi menahan malu. Pipinya yang putih bersemu merah akibat perasaan campur aduk dalam hatinya. Kecantikan Ning Alfi memang kondang, baik di kalangan santri putra senior yang bertugas sebagai ustaz maupun para santri putri.

Sorogan yang dimaksud di pesantren ini adalah metode pengajaran ala pesantren tradisional. Santri melakukan sorog atau ‘menyetorkan atau menunjukkan kemampuan membaca kitab tertentu langsung di hadapan guru’. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan secara langsung sesuai kemampuan santri. Ketika santri salah dalam membaca kitab, guru akan membetulkan ataupun membacakan langsung di hadapan santri. Metode ini dilakukan kepada santri satu per satu.

Metode berhadapan langsung seperti ini sebenarnya adalah metode belajar yang sangat tua, jauh sebelum pesantren tradisional nusantara menggunakan metode ini. Rasulullah Muhammad SAW juga melakukan metode ini dalam mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat. Pada zaman Rasulullah metode ini disebut talaqqi. Maknanya ‘belajar langsung dengan menghadap guru’. Metode talaqqi juga disebut musafahah.

Berhadapan langsung dengan guru seperti ini membuat seorang murid atau santri memiliki sanad. Jika setiap murid berhadapan langsung dengan sang guru lalu guru berhadapan langsung dengan gurunya, maka akan terus bersambung antara para guru hingga Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Muhammad juga belajar Al-Qur’an secara musafahah dengan Malaikat Jibril. Adapun malaikat Jibril, mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah sesuai petunjuk Allah SWT. Oleh karena itu, sanad keilmuan, khususnya Al-Qur'an, adalah sesuatu yang istimewa. Rantaian tali jiwa keilmuan haqiqi antara murid, guru, hingga pada mahaguru.

 

"Sorry, Ning. Jangan marah!" ujar Nafisah sambil mengipaskan dua tangan di depan mulutnya yang kepedasan. Satu biji tahu isi ia makan dengan lima biji cabe merah.

"Nafisah kalau usil pikir dulu dong. Kamu sudah ngisengin Gus Shihab kayak gitu. Su'ul adab, loh. Ingat, kita butuh berkah kemanfaatan ilmu. Yang sopan sama guru apalagi dzurriyyah," nasihat Ning Alfi dibalas dengan cengiran.

"Kalau pakai mikir, itu ujian, Ning. Iseng, ya, iseng aja, nggak perlu pakai mikir," bantahnya sambil tertawa.

"Punya otak dipakai, Fis," sergah Ning Alfi kesal karena dibantah.

"Dibilangin otakku ini kupakai kalau ujian. Makanya, rangkingku lumayan di bawah njenengan yang selalu juara pertama," tukas Nafisah lagi.

"Tauk, ah, gelap bicara sama kamu. Aku mau pesan tahu campur dulu." Ning Alfi berlalu menuju gerobak tahu campur kantin.

Meskipun penampakan wajahnya marah, tapi hatinya tidak. Ia tahu kalau Nafisah memang masih ada hubungan keluarga dengan ndalem pesantren tempatnya mondok ini. Dengan kata lain, Gus Shihab itu masih kerabatnya. Itu sebabnya dia berani bercakap-cakap dan bergurau dengan beliau. Terlebih watak asli mereka berdua memang ramah dan suka bergurau. Sepertinya keduanya memang menuruni sifat itu dari keluarga ndalem.

Kiai Kamil, pengasuh Asrama Azzainab, adalah abah Gus Shihab yang memiliki selera humor berdaya hikmah tinggi yang menggugah para santri saat mengikuti pengajian umum Ihya' Ulumuddin yang beliau asuh. Orang-orang dengan level kebijaksaan tinggi memang justru banyak memberi nasihat berat dengan cara ringan, yakni humor.

 

Meski ada delapan asrama putra dan putri di pesantren ini, tapi pengajian madrasah diniah dan sekolah tergabung dalam satu institusi. Semua santri putri dari Asrama Azzubaidah, Azzainab, Azzahrah, dan Azzakiyah akan saling bertemu dan berinteraksi sehingga ada kerekatan sosial meski beda asmara, sedangkan santri putra memiliki manajemen terpisah meskipun pola pengelolaan sama.

Interaksi santri yang intens antara empat asrama putri yang berbeda tersebut menyebabkan segala informasi yang baru dan menghebohkan akan sama-sama diketahui, termasuk informasi Gus Prajurit Sampah baru yang tampan itu.

"Gus, ada beberapa surat ini, loh, dari penggemar njenengan." Kang Badri terkikik menunjukkan sebuah surat terlipat origami berbentuk pesawat yang dilemparkan dari lantai dua Asrama Azzubaidah. Tulisan yang tampak menunjukkan tujuan kertas itu, yakni kepada Gus Falih.

Setelah mengambil sampah dari semua asrama, para abdi pondok petugas sampah ini akan memilah-milah dalam beberapa kategori sampah untuk ditindaklanjuti. Kesempatan ini sekaligus adalah waktu bersenda gurau di antara mereka sehingga pekerjaan bisa diselesaikan dengan gembira.

"Waduh, apa saya pensiun dini saja, ya? Bisa jadi fitnah pasukan kita kalau begini terus. Kalau Abah mendengar, nanti kita semua bakal disidang." Gus Falih menjawab tanpa berminat menerima surat pesawat terbang itu.

"Halah, Gus. Tenang saja. Ini sudah biasa tiap ada prajurit baru. Dulu Kang Samsul juga digoda kayak gitu. Padahal, Kang Samsul, ya, jauh dari kategori ganteng. Ya, nggak, Kang Sul?" jawab Kang Badri yang masih terkikik.

"Enak aja aku dibilang jauh dari kategori ganteng. Aku ini mirip bintang Korea Lee Min Ho. Lihat baik-baik potongan rambut dan mata sipitku ini! Kalian itu kurang telaten melihat aku," jawab Kang Samsul sambil mengibaskan poni rambutnya bergaya iklan sampo.

 

Kang Badri makin terkikik. Kang Samsul dan Kang Noval ikut tertawa. Gus Falih diam tak bereaksi. Hati dan pikirannya kacau. Ia merasa ini akan menjadi awal malapetaka. Menjadi idola mungkin bagi beberapa orang adalah impian. Namun, bukankah selalu ada dua sisi untuk setiap hal? Di balik gemilangnya sang idola ada sisi gelap orang lain yang sirik, iri, dan dengki. Gus Falih tidak suka itu.

"Eh, ayo kita baca aja dulu suratnya rame-rame." Kang Noval yang sedari tadi diam mengambil surat-surat dari tangan Kang Badri.

"Lihat pengirimnya aja dulu. Isinya nggak penting." Kang Samsul memberi usul sambil tertawa.

"Iya, benar. Kalau pengirimnya nggak menarik atau nggak jelas, abaikan saja." Kang Noval menimpali.

"Baik. Aku buka, ya." Kang Noval melanjutkan ucapannya sambil membuka lipatan kertas-kertas tersebut.

"Ini dari Asrama Azzainab, Sri Rahayu. Ada yang tahu anaknya kayak gimana?" Kang Noval bertanya.

"Nggak jelas yang mana anaknya. Sudah lewati aja," jawab Kang Samsul.

"Eh, itu kayaknya anak yang dulu nyurati Kang Noval, loh," tukas Kang Badri.

"Oiya, ya. Wah, dia bukan penggemar yang setia. Dulu nyurati aku kok sekarang nyurati Gus Falih." Kang Noval bersungut-sungut.

"Sudah, sudah. Buang semua surat itu. Sini, biar kurobek-robek dulu." Gus Falih akhirnya jengah dan bereaksi atas tingkah konyol teman-temannya. Ia berjalan mendekati Kang Noval dan hendak mengambil surat-surat itu.

"Bentar, Gus. Ini ada yang aneh." Tangan Kang Noval menunjukkan isyarat berhenti.

"Aneh apa?" tanya Gus Falih.

"Ini surat yang berbentuk pesawat terbang dari Asrama Azzubaidah kok dari Ning Alfi?" Kang Noval menunjukkan ekspresi tidak percaya sambil memandangi teman-temannya.

"Hah? Nggak mungkin," sahut Kang Badri yang sedari tadi hanya terkikik atas tingkah pasukannya.

"Ning Alfi siapa, sih?" tanya Gus Falih.

"Itu Ning cuantik, pemegang piala the best terus tiap tahun. Nggak di sekolah, nggak di madrasah diniah, dia terus yang dapat. Dia kelas Syawir sekarang." Kang Badri menjelaskan pada Gus Falih yang tampak penasaran.

Kelas Syawir adalah kelas pascalulus madrasah diniah enam tahun. Tidak semua santri harus melalui enam tahun itu secara penuh. Saat baru masuk mereka akan menjalani serangkaian tes untuk penempatan kelas. Oleh karena itu, banyak santri yang sudah masuk kelas Syawir pada tahun kelima atau sebelum itu karena diterima masuk madrasah diniah bukan kelas 1, terutama yang sudah pernah mondok atau sudah pernah belajar ilmu agama khususnya kitab kuning sejak di rumah. Biasanya mereka diterima di kelas 2, 3, atau 4.

Selain itu, santri kelas Syawir adalah calon ustaz dan ustazah di tahun berikutnya. Ini semacam kelas pengkaderan. Tidak ada lagi materi pelajaran di kelas khusus ini. Mereka hanya sorogan kitab-kitab sesuai jadwal pada Gus Shihab dan Nyai Mahfudzoh selaku guru khusus kelas tersebut. Nyai Mahfudzoh adalah bungsu Mbah Kiai Anwar, bulek-nya Gus Shihab.

 

"Ngapain Ning kayak gitu nyurati aku? Kurang kerjaan banget," jawab Gus Falih tak acuh.

"Sini, biar kurobek semua!" Gus Falih bersikukuh.

"Tunggu, Gus. Ayo, kita baca dulu!" sergah Kang Badri serius.

 

***



[i] Ndalem berarti ‘rumah’ dalam bahasa Jawa. Di pesantren kata ndalem dimaksudkan sebagai rumah pengasuh.

[ii] Gotha’an berarti ‘suatu kamar yang ditempati beberapa santri di pesantren’.

[iii] Dzurriyyah berarti ‘keturunan’. Dalam pesantren, ini digunakan untuk menyebut keturunan kiai yang mengasuh pesantren.

[iv] Su'ul adab berarti ‘berlaku kurang atau tidak baik’. Bisa juga diartikan ‘berperilaku buruk’.

Minggu, 03 Juli 2022

Surat Cinta Ning Alfiyatuz Zahro' Layar 1

 

SURAT CINTA NING ALFIYATUZ ZAHRO'

Layar 1

Mengabdi Tanpa Gengsi

"Ning, ayo, sini! Ikutan lihat. Ada Kang Sampah baru. Ganteng." Nafisah, sahabat Ning alfi berteriak sambil berlari dari balkon asrama lantai dua. Dia berhenti di ambang pintu kamar dan berdiri menyandarkan diri di sisi kiri kosen kayu kelapa yang membingkai daun pintu kamar. Gadis itu berusaha mengatur nafas yang terengah-engah.

"Haduh ... apaan sih Nafis? Sudahi keisengan kamu godain Kang Badri dan pasukannya itu! Nggak pantes!" Ning Alfi yang sedang mendaras kitab Fathul Mu’in untuk persiapan Sorogan[i] kelas Syawir[ii] nanti malam menjawab dengan nada sedikit menghardik.

"Loh, Ning. Yang ini prajurit baru. Ganteng banget." Nafisah menjawab dengan sedikit melompat-lompat seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat hadiah permen.

Prajurit adalah istilah yang dipakai para santri putri Pesantren Darul ghuroba', untuk menyebut rombongan Kang Santri yang membawa gerobak sampah dan bertugas mengambil sampah dari satu asrama putri ke asrama berikutnya. Rombongan ini dipimpin oleh Kang Badri yang sangat masyhur dengan julukan Kang Jenderal Berbintang karena wajahnya berkulit hitam dan dipenuhi jerawat besar-besar laksana bintang di langit malam. Ia adalah ketua unit pelaksana persampahan di Struktur Kepengurusan Induk Pesantren.

Setiap hari mereka datang untuk memindahkan isi tong-tong sampah ke gerobak lalu dibawa ke pusat pengelolaan sampah induk di pesantren ini. Di sana ada banyak Kang Santri dengan berbagai macam tugas. Ada yang memilah, mengatur penjualan sampah layak jual, mendaur ulang, serta memproses sampah-sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi biji plastik. Sampah yang tak dapat diolah atau didaur ulang akan dibakar. Abu sisa pembakaran dibawa ke tanah calon perluasan pesantren yang kontur tanahnya belum rata.

 “Ah, paling-paling dia ngerjain aku,” batin Ning Alfi dan memutuskan untuk mengabaikan sahabatnya.

"Ning, sumpah. Nyesel njenengan[iii] kalau kali ini tetap ndak mau ikutan!" teriak Nafisah sambil berlalu.

Ning Alfi tetap tak mau menghiraukan Nafisah. Gadis berjilbab instan itu bertahan pada posisi duduknya. Kepalanya kembali menunduk, menekuri kitab yang sedang dipegang. Beberapa saat setelahnya, terdengar suara teman-teman lainnya bersorak-sorai dengan ungkapan menggoda. Macam-macam kalimat bernada menjatuhkan mental itu terdengar. Meski kalimatnya baik, tapi kalau dengan nada menggoda dan teriak-teriak begitu, mana bisa disebut memuji? Itu lebih tepat disebut perploncoan.

“Apa Kang Prajurit baru itu memang beneran tampan, ya, sehingga banyak yang ikutan menggoda seperti Nafisah?” Meskipun berusaha tak peduli, tapi hati Ning Alfi tebersit penasaran. Memang sudah menjadi kebiasaan di pesantren ini, kalau ada Kang Santri baru yang masuk asrama, dia akan menghadapi tempaan mental dalam bentuk sorak-sorai santri putri seperti itu. Meskipun merupakan hal yang kurang baik dan cenderung negatif, tetapi budaya itu nyatanya tak bisa dengan mudah dihilangkan. Bahkan, kebiasaan itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi para santri putri.

 "Ning, kata Ana, dia itu tetangganya. Dia seorang gus dari Malang. Katanya, pondoknya juga besar." Nafisah datang dengan suara bercampur nafas memburu. Sepertinya gadis itu memang tak bisa hanya sekadar berjalan. Dia lebih sering berlari.

"Ah, yang benar? Masak gus mau jadi petugas sampah?"

 "Lah, ya, itu buktinya dia mau," jawab Nafisah.

"Ah, jangan-jangan dia gus tukang cari sensasi aja .... Minta jadi prajurit sampah biar bisa masuk pondok putri," jawab Ning Alfi tak acuh.

"Lah, njenengan ini gimana sih? Kang yang bertugas sebagai prajurit yang bisa masuk pondok putri begini kan minimal sudah bertugas selama dua tahun di instalasi sampah induk. Nah, otomatis dia sudah ngurus sampah minimal selama dua tahun ini, to," protes Nafisah.

"Kayaknya kamu sudah terpesona sama Gus Sampah itu, Fis. Nggak bisa berpikir objektif," sergah Ning Alfi, membalas ucapan Nafisah.

"Loh, ya, njenengan yang tidak objektif. Dia kan memang ganteng. Dia juga sudah berkutat sama sampah sejak lama. Artinya, dia memang gus yang nggak pakai gengsi. Bukan gus yang suka menyombongkan nasabnya. Apalagi, dia ini putra kiai yang pondoknya besar. Kalau dia dapat tugas masuk pondok putri, ya, itu rezekinya dia. Terus, rezeki kita juga karena tidak hanya lihat Kang Badri Jenderal Berbintang." Kali ini Nafisah menjawab dengan ekspresi lucu di wajahnya.

 "Astagfirullah ..., kok malah kamu anggap rezeki itu gimana sih?" Ning Alfi merespons dengan sedikit jengkel.

"Ingat, Ning. Baca baik-baik surah Ibrahim ayat 2. Eh, ayat 7, ding. Kalau kita bersyukur, maka kenikmatan hidup kita ini akan ditambah oleh Allah SWT. Sebaliknya, kalau kita kufur, maka azab Allah itu sangat pedih."

Ekspresi wajah Nafisah sungguh membingungkan Ning Alfi. Serius, tapi lucu. Ucapan Nafisah memang benar secara teks. Namun, tidak pada konteksnya. Sahabatnya ini memang pribadi yang cerdas, lucu, menyenangkan, sekaligus baik hati. Namun, perilaku usilnya itu nggak ketulungan.

"Kamu ini kok jadi ngaco. Awas, jangan-jangan kena mahabbah[iv] Gus Ganteng itu, loh!" komentar Ning Alfi sambil melempar permen di tangannya ke pangkuan Nafisah yang kini sudah duduk bersila di hadapannya.

"Njenengan juga awas kuwalat[v] Gus Ganteng itu. Dari tadi suudzon melulu. Gething nyanding[vi], lho, Ning. Kalau jadi jodohnya gus itu kapok, tahu rasa, loh. Eh, kok kuwalatnya enak gitu, ya? Aku juga mau. Aku aja yang kuwalat begitu. Ha ha ha."

Nafisah tertawa tanpa beban. Dia membuka permen yang dilempar Ning Alfi dan melahapnya.

"Eh, siapa sih namanya gus itu?" tanya Ning Alfi penasaran.

"Kata Ana, namanya Gus Falih. Tahun ini beliau semester empat di Ma'had Aly. Sudah mondok di sini enam tahun kayaknya," jawab Nafisah tak acuh sambil mengulum permen dan mengambil dua bantal lalu melemparnya di sisi Ning Alfi. Satu bantal miliknya dan satu lagi milik sahabat tersayang yang selalu serius belajar dan menghafal Al-Qur'an itu. Nafisah mengerti alasan Ning Alfi seperti itu. Ia memiliki beban masa depan untuk mengelola pesantren besar milik orang tuanya di Mojokerto.

"Hem, Gus Falih, ya, namanya." Ning Alfi bergumam.

"Nah, sekarang kau sebut namanya. Tanda-tanda kuwalat mulai bereaksi," ucap Nafisah sambil tertawa kembali. Sedetik kemudian dia terbatuk-batuk sambil memelototkan mata. Ternyata permen yang dia kulum hampir masuk kerongkongan. Tertawanya terlalu keras dan lupa pada permen yang ada di mulut.

"Apaan sih kamu ini. Tuh, jadi tersedak. Sudah, ah. Kamu kok jadi godain aku." Ning Alfi ikut tertawa sambil mengulurkan botol air minum untuk Nafisah.

Nafisah segera meminumnya untuk mendorong permen yang menyangkut agar lancar masuk ke lambung. Setelahnya mereka kembali tertawa. Tawa hangat dua sahabat di sebuah kamar santri yang sederhana. Tak lama berselang Nafisah mulai menyanyi lagu dangdut zaman nenek-nenek mereka yang berjudul “Sebuah Nama”. Nyanyian Nafisah terdengar sengaja meledek Ning Alfi. Hal itu membuatnya harus menyimpulkan bahwa Nafisah memang sedang bersikap sangat menjengkelkan.

Ning Alfi tahu lagu itu karena sering diputar oleh orang kampung ketika ada acara pernikahan. Suaranya sangat keras sehingga tak terhindar lagi dari gendang telinganya yang memiliki kecerdasan auditori. Memiliki kecerdasan ini membuatnya sangat peka mengingat dan menganalisis segala hal yang ia dengar, termasuk lagu-lagu yang menjengkelkan yang sedang dinyanyikan Nafisah. Tanpa dia inginkan, ia hafal lirik lagu yang dipopulerkan Elvy Sukaesih itu.

Sebuah nama terukir di hatiku

Dalam membekas tak mudah terhapuskan

Indah namanya, hai seindah orangnya

Kala kusebut hai terbayang wajahnya

Karena dia aku bisa menangis

Karena dia aku bisa tertawa

Karena dia aku bisa bahagia

Karena dia aku bisa merana

***



[i] Sorogan berarti ‘menyodorkan’. Ini adalah salah satu metode pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka antara santri dan kiai atau guru. Umumnya dilakukan di lingkungan pesantren yang berhubungan dengan hafalan atau bacaan yang harus disimak pengajar secara langsung.

[ii] Syawir adalah budaya bertukar pendapat tentang kitab atau materi yang sedang dipelajari. Budaya ini biasanya dilakukan di lingkungan pesantren

[iii] Njenengan berarti kamu dalam bahasa Jawa Krama Inggil yang ditujukan untuk orang yang lebih tua atau lebih mulia. Bahasa Jawa memiliki tingkatan berdasarkan usia atau kedudukan lawan bicara. Tingkatan tersebut yakni Ngaka, Krama Madya dan Krama Inggil.

[iv] Mahabbah adalah istilah yang merujuk pada doa agar seseorang terpikat hatinya

[v] Kuwalat adalah istilah yang merujuk pada keadaan seseorang yang mengalami kesialan sebagai akibat perilaku buruk yang ia lakukan pada orang lain.

[vi] Gething nyanding adalah idiom yang artinya orang membenci malah berjodoh dengan orang yang dibenci.