Minggu, 03 Juli 2022

Surat Cinta Ning Alfiyatuz Zahro' Layar 1

 

SURAT CINTA NING ALFIYATUZ ZAHRO'

Layar 1

Mengabdi Tanpa Gengsi

"Ning, ayo, sini! Ikutan lihat. Ada Kang Sampah baru. Ganteng." Nafisah, sahabat Ning alfi berteriak sambil berlari dari balkon asrama lantai dua. Dia berhenti di ambang pintu kamar dan berdiri menyandarkan diri di sisi kiri kosen kayu kelapa yang membingkai daun pintu kamar. Gadis itu berusaha mengatur nafas yang terengah-engah.

"Haduh ... apaan sih Nafis? Sudahi keisengan kamu godain Kang Badri dan pasukannya itu! Nggak pantes!" Ning Alfi yang sedang mendaras kitab Fathul Mu’in untuk persiapan Sorogan[i] kelas Syawir[ii] nanti malam menjawab dengan nada sedikit menghardik.

"Loh, Ning. Yang ini prajurit baru. Ganteng banget." Nafisah menjawab dengan sedikit melompat-lompat seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat hadiah permen.

Prajurit adalah istilah yang dipakai para santri putri Pesantren Darul ghuroba', untuk menyebut rombongan Kang Santri yang membawa gerobak sampah dan bertugas mengambil sampah dari satu asrama putri ke asrama berikutnya. Rombongan ini dipimpin oleh Kang Badri yang sangat masyhur dengan julukan Kang Jenderal Berbintang karena wajahnya berkulit hitam dan dipenuhi jerawat besar-besar laksana bintang di langit malam. Ia adalah ketua unit pelaksana persampahan di Struktur Kepengurusan Induk Pesantren.

Setiap hari mereka datang untuk memindahkan isi tong-tong sampah ke gerobak lalu dibawa ke pusat pengelolaan sampah induk di pesantren ini. Di sana ada banyak Kang Santri dengan berbagai macam tugas. Ada yang memilah, mengatur penjualan sampah layak jual, mendaur ulang, serta memproses sampah-sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi biji plastik. Sampah yang tak dapat diolah atau didaur ulang akan dibakar. Abu sisa pembakaran dibawa ke tanah calon perluasan pesantren yang kontur tanahnya belum rata.

 “Ah, paling-paling dia ngerjain aku,” batin Ning Alfi dan memutuskan untuk mengabaikan sahabatnya.

"Ning, sumpah. Nyesel njenengan[iii] kalau kali ini tetap ndak mau ikutan!" teriak Nafisah sambil berlalu.

Ning Alfi tetap tak mau menghiraukan Nafisah. Gadis berjilbab instan itu bertahan pada posisi duduknya. Kepalanya kembali menunduk, menekuri kitab yang sedang dipegang. Beberapa saat setelahnya, terdengar suara teman-teman lainnya bersorak-sorai dengan ungkapan menggoda. Macam-macam kalimat bernada menjatuhkan mental itu terdengar. Meski kalimatnya baik, tapi kalau dengan nada menggoda dan teriak-teriak begitu, mana bisa disebut memuji? Itu lebih tepat disebut perploncoan.

“Apa Kang Prajurit baru itu memang beneran tampan, ya, sehingga banyak yang ikutan menggoda seperti Nafisah?” Meskipun berusaha tak peduli, tapi hati Ning Alfi tebersit penasaran. Memang sudah menjadi kebiasaan di pesantren ini, kalau ada Kang Santri baru yang masuk asrama, dia akan menghadapi tempaan mental dalam bentuk sorak-sorai santri putri seperti itu. Meskipun merupakan hal yang kurang baik dan cenderung negatif, tetapi budaya itu nyatanya tak bisa dengan mudah dihilangkan. Bahkan, kebiasaan itu seolah menjadi hiburan tersendiri bagi para santri putri.

 "Ning, kata Ana, dia itu tetangganya. Dia seorang gus dari Malang. Katanya, pondoknya juga besar." Nafisah datang dengan suara bercampur nafas memburu. Sepertinya gadis itu memang tak bisa hanya sekadar berjalan. Dia lebih sering berlari.

"Ah, yang benar? Masak gus mau jadi petugas sampah?"

 "Lah, ya, itu buktinya dia mau," jawab Nafisah.

"Ah, jangan-jangan dia gus tukang cari sensasi aja .... Minta jadi prajurit sampah biar bisa masuk pondok putri," jawab Ning Alfi tak acuh.

"Lah, njenengan ini gimana sih? Kang yang bertugas sebagai prajurit yang bisa masuk pondok putri begini kan minimal sudah bertugas selama dua tahun di instalasi sampah induk. Nah, otomatis dia sudah ngurus sampah minimal selama dua tahun ini, to," protes Nafisah.

"Kayaknya kamu sudah terpesona sama Gus Sampah itu, Fis. Nggak bisa berpikir objektif," sergah Ning Alfi, membalas ucapan Nafisah.

"Loh, ya, njenengan yang tidak objektif. Dia kan memang ganteng. Dia juga sudah berkutat sama sampah sejak lama. Artinya, dia memang gus yang nggak pakai gengsi. Bukan gus yang suka menyombongkan nasabnya. Apalagi, dia ini putra kiai yang pondoknya besar. Kalau dia dapat tugas masuk pondok putri, ya, itu rezekinya dia. Terus, rezeki kita juga karena tidak hanya lihat Kang Badri Jenderal Berbintang." Kali ini Nafisah menjawab dengan ekspresi lucu di wajahnya.

 "Astagfirullah ..., kok malah kamu anggap rezeki itu gimana sih?" Ning Alfi merespons dengan sedikit jengkel.

"Ingat, Ning. Baca baik-baik surah Ibrahim ayat 2. Eh, ayat 7, ding. Kalau kita bersyukur, maka kenikmatan hidup kita ini akan ditambah oleh Allah SWT. Sebaliknya, kalau kita kufur, maka azab Allah itu sangat pedih."

Ekspresi wajah Nafisah sungguh membingungkan Ning Alfi. Serius, tapi lucu. Ucapan Nafisah memang benar secara teks. Namun, tidak pada konteksnya. Sahabatnya ini memang pribadi yang cerdas, lucu, menyenangkan, sekaligus baik hati. Namun, perilaku usilnya itu nggak ketulungan.

"Kamu ini kok jadi ngaco. Awas, jangan-jangan kena mahabbah[iv] Gus Ganteng itu, loh!" komentar Ning Alfi sambil melempar permen di tangannya ke pangkuan Nafisah yang kini sudah duduk bersila di hadapannya.

"Njenengan juga awas kuwalat[v] Gus Ganteng itu. Dari tadi suudzon melulu. Gething nyanding[vi], lho, Ning. Kalau jadi jodohnya gus itu kapok, tahu rasa, loh. Eh, kok kuwalatnya enak gitu, ya? Aku juga mau. Aku aja yang kuwalat begitu. Ha ha ha."

Nafisah tertawa tanpa beban. Dia membuka permen yang dilempar Ning Alfi dan melahapnya.

"Eh, siapa sih namanya gus itu?" tanya Ning Alfi penasaran.

"Kata Ana, namanya Gus Falih. Tahun ini beliau semester empat di Ma'had Aly. Sudah mondok di sini enam tahun kayaknya," jawab Nafisah tak acuh sambil mengulum permen dan mengambil dua bantal lalu melemparnya di sisi Ning Alfi. Satu bantal miliknya dan satu lagi milik sahabat tersayang yang selalu serius belajar dan menghafal Al-Qur'an itu. Nafisah mengerti alasan Ning Alfi seperti itu. Ia memiliki beban masa depan untuk mengelola pesantren besar milik orang tuanya di Mojokerto.

"Hem, Gus Falih, ya, namanya." Ning Alfi bergumam.

"Nah, sekarang kau sebut namanya. Tanda-tanda kuwalat mulai bereaksi," ucap Nafisah sambil tertawa kembali. Sedetik kemudian dia terbatuk-batuk sambil memelototkan mata. Ternyata permen yang dia kulum hampir masuk kerongkongan. Tertawanya terlalu keras dan lupa pada permen yang ada di mulut.

"Apaan sih kamu ini. Tuh, jadi tersedak. Sudah, ah. Kamu kok jadi godain aku." Ning Alfi ikut tertawa sambil mengulurkan botol air minum untuk Nafisah.

Nafisah segera meminumnya untuk mendorong permen yang menyangkut agar lancar masuk ke lambung. Setelahnya mereka kembali tertawa. Tawa hangat dua sahabat di sebuah kamar santri yang sederhana. Tak lama berselang Nafisah mulai menyanyi lagu dangdut zaman nenek-nenek mereka yang berjudul “Sebuah Nama”. Nyanyian Nafisah terdengar sengaja meledek Ning Alfi. Hal itu membuatnya harus menyimpulkan bahwa Nafisah memang sedang bersikap sangat menjengkelkan.

Ning Alfi tahu lagu itu karena sering diputar oleh orang kampung ketika ada acara pernikahan. Suaranya sangat keras sehingga tak terhindar lagi dari gendang telinganya yang memiliki kecerdasan auditori. Memiliki kecerdasan ini membuatnya sangat peka mengingat dan menganalisis segala hal yang ia dengar, termasuk lagu-lagu yang menjengkelkan yang sedang dinyanyikan Nafisah. Tanpa dia inginkan, ia hafal lirik lagu yang dipopulerkan Elvy Sukaesih itu.

Sebuah nama terukir di hatiku

Dalam membekas tak mudah terhapuskan

Indah namanya, hai seindah orangnya

Kala kusebut hai terbayang wajahnya

Karena dia aku bisa menangis

Karena dia aku bisa tertawa

Karena dia aku bisa bahagia

Karena dia aku bisa merana

***



[i] Sorogan berarti ‘menyodorkan’. Ini adalah salah satu metode pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka antara santri dan kiai atau guru. Umumnya dilakukan di lingkungan pesantren yang berhubungan dengan hafalan atau bacaan yang harus disimak pengajar secara langsung.

[ii] Syawir adalah budaya bertukar pendapat tentang kitab atau materi yang sedang dipelajari. Budaya ini biasanya dilakukan di lingkungan pesantren

[iii] Njenengan berarti kamu dalam bahasa Jawa Krama Inggil yang ditujukan untuk orang yang lebih tua atau lebih mulia. Bahasa Jawa memiliki tingkatan berdasarkan usia atau kedudukan lawan bicara. Tingkatan tersebut yakni Ngaka, Krama Madya dan Krama Inggil.

[iv] Mahabbah adalah istilah yang merujuk pada doa agar seseorang terpikat hatinya

[v] Kuwalat adalah istilah yang merujuk pada keadaan seseorang yang mengalami kesialan sebagai akibat perilaku buruk yang ia lakukan pada orang lain.

[vi] Gething nyanding adalah idiom yang artinya orang membenci malah berjodoh dengan orang yang dibenci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar