Selasa, 05 Juli 2022

Surat Cinta Ning Alfiyatus Zahro' Layar 2

 

SURAT CINTA NING ALFIYATUZ ZAHRO'

Layar 2    

Surat Kertas Pesawat Terbang

Pesantren Darul Ghuroba' ini usianya sudah cukup tua. Sejak berdiri hingga sekarang pesantren ini sudah mengelola delapan asrama. Empat asrama dihuni santri putra. Empat asrama sisanya ditempati santri putri. Masing-masing asrama memiliki pengasuh, yaitu putra dan putri kiai sepuh.

Meskipun dianggap sebagai generasi kedua, tetapi putra dan putri kiai sepuh sudah disiapkan secara matang sebagai penerus keluarga yang akan memikul amanah dalam mendidik generasi bangsa. Selain itu, di keluarga ndalem[i] sudah lahir dan tumbuh generasi ketiga dan keempat. Sama halnya dengan generasi kedua, mereka juga ditempa untuk mengemban amanah dalam perjuangan mendidik generasi penerus bangsa. Generasi ketiga saat ini kebanyakan masih kuliah, sekolah, dan beberapa ada yang masih balita, sedangkan generasi keempat adalah para cicit yang semuanya masih balita.

Dalam mendidik para penerus, kiai sepuh beserta putra dan putrinya memberikan kebebasan. Beberapa dari mereka ada yang mondok di tempat lain. Namun, ada juga yang membaur dengan santri dan mengenyam pendidikan di pesantren sendiri. Bahkan, beberapa dari mereka tinggal di gotha'an [ii]bersama santri, bersikap dan bertindak sebagai santri biasa seperti lainnya.

 "Gus Falih itu ternyata kawan akrab Gus Shihab, loh, Ning. Mereka satu angkatan di Ma'had Aly," ujar Nafisah memulai percakapan dengan Ning Alfi sesudah sorogan kitab Fathul Mu’in di kelas Syawir.

 

Mereka berjalan di lorong gedung madrasah aliyah. Kalau malam, gedung ini beralih fungsi menjadi ruang kelas madrasah diniah. Dua santri itu terus berjalan menuju kantin induk pesantren.

"Loh, kok bisa update informasi lagi?" Ning Alfi memandang sahabatnya itu dengan keheranan.

"Tadi habis sorogan aku tanya ke Gus Shihab," ujar Nafisah dengan bangga.

"Hah? Kamu berani tanya urusan remeh kayak gitu ke beliau?" Ning Alfi membelalakkan mata saking kagetnya.

Gus Shihab adalah cucu Mbah Kiai Anwar, pendiri pesantren ini. Beliau masih muda dan jomblo. Salah satu dzurriyyah[iii] yang tinggal di asrama bersama santri dan memiliki tugas mengajar.

"Iyalah," tukas Nafisah.

"Caramu tanya bagaimana?" Ning Alfi makin keheranan dengan tingkah Nafisah yang menurutnya su'ul adab[iv].

"Aku bilang kalau njenengan naksir Gus Falih. Makanya aku titip salam dari njenengan. Eh, Gus Shihab malah bilang supaya jangan naksir Gus Falih. Malah, terus balik titip salam buat njenengan. Ning Alfi sama aku saja. Begitu katanya."

Nafisah bicara dengan tampang polos sembari duduk di bangku panjang kantin.

Tangannya mencomot tahu isi di tangan kiri dan cabe di tangan kanan seraya menggigit rawit merah itu tanpa memedulikan ekspresi Ning Alfi.

"Kamu ini isengnya kebangetan. Pantas saja Gus Shihab senyum-senyum pas nyimak sorogan-ku tadi,” sungut Ning Alfi. “Eh, itu makan mbok yang sopan, pakai tangan kanan!" Ning Alfi gemas, antara marah dan tersinggung. Namun, juga ingin tertawa mengingat ekspresi wajah Gus Shihab.

 

Diacak-acaknya jilbab Nafisah meskipun gadis itu sedang menahan pedas karena terlalu banyak makan cabai. Ning Alfi menahan malu. Pipinya yang putih bersemu merah akibat perasaan campur aduk dalam hatinya. Kecantikan Ning Alfi memang kondang, baik di kalangan santri putra senior yang bertugas sebagai ustaz maupun para santri putri.

Sorogan yang dimaksud di pesantren ini adalah metode pengajaran ala pesantren tradisional. Santri melakukan sorog atau ‘menyetorkan atau menunjukkan kemampuan membaca kitab tertentu langsung di hadapan guru’. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan secara langsung sesuai kemampuan santri. Ketika santri salah dalam membaca kitab, guru akan membetulkan ataupun membacakan langsung di hadapan santri. Metode ini dilakukan kepada santri satu per satu.

Metode berhadapan langsung seperti ini sebenarnya adalah metode belajar yang sangat tua, jauh sebelum pesantren tradisional nusantara menggunakan metode ini. Rasulullah Muhammad SAW juga melakukan metode ini dalam mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat. Pada zaman Rasulullah metode ini disebut talaqqi. Maknanya ‘belajar langsung dengan menghadap guru’. Metode talaqqi juga disebut musafahah.

Berhadapan langsung dengan guru seperti ini membuat seorang murid atau santri memiliki sanad. Jika setiap murid berhadapan langsung dengan sang guru lalu guru berhadapan langsung dengan gurunya, maka akan terus bersambung antara para guru hingga Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Muhammad juga belajar Al-Qur’an secara musafahah dengan Malaikat Jibril. Adapun malaikat Jibril, mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah sesuai petunjuk Allah SWT. Oleh karena itu, sanad keilmuan, khususnya Al-Qur'an, adalah sesuatu yang istimewa. Rantaian tali jiwa keilmuan haqiqi antara murid, guru, hingga pada mahaguru.

 

"Sorry, Ning. Jangan marah!" ujar Nafisah sambil mengipaskan dua tangan di depan mulutnya yang kepedasan. Satu biji tahu isi ia makan dengan lima biji cabe merah.

"Nafisah kalau usil pikir dulu dong. Kamu sudah ngisengin Gus Shihab kayak gitu. Su'ul adab, loh. Ingat, kita butuh berkah kemanfaatan ilmu. Yang sopan sama guru apalagi dzurriyyah," nasihat Ning Alfi dibalas dengan cengiran.

"Kalau pakai mikir, itu ujian, Ning. Iseng, ya, iseng aja, nggak perlu pakai mikir," bantahnya sambil tertawa.

"Punya otak dipakai, Fis," sergah Ning Alfi kesal karena dibantah.

"Dibilangin otakku ini kupakai kalau ujian. Makanya, rangkingku lumayan di bawah njenengan yang selalu juara pertama," tukas Nafisah lagi.

"Tauk, ah, gelap bicara sama kamu. Aku mau pesan tahu campur dulu." Ning Alfi berlalu menuju gerobak tahu campur kantin.

Meskipun penampakan wajahnya marah, tapi hatinya tidak. Ia tahu kalau Nafisah memang masih ada hubungan keluarga dengan ndalem pesantren tempatnya mondok ini. Dengan kata lain, Gus Shihab itu masih kerabatnya. Itu sebabnya dia berani bercakap-cakap dan bergurau dengan beliau. Terlebih watak asli mereka berdua memang ramah dan suka bergurau. Sepertinya keduanya memang menuruni sifat itu dari keluarga ndalem.

Kiai Kamil, pengasuh Asrama Azzainab, adalah abah Gus Shihab yang memiliki selera humor berdaya hikmah tinggi yang menggugah para santri saat mengikuti pengajian umum Ihya' Ulumuddin yang beliau asuh. Orang-orang dengan level kebijaksaan tinggi memang justru banyak memberi nasihat berat dengan cara ringan, yakni humor.

 

Meski ada delapan asrama putra dan putri di pesantren ini, tapi pengajian madrasah diniah dan sekolah tergabung dalam satu institusi. Semua santri putri dari Asrama Azzubaidah, Azzainab, Azzahrah, dan Azzakiyah akan saling bertemu dan berinteraksi sehingga ada kerekatan sosial meski beda asmara, sedangkan santri putra memiliki manajemen terpisah meskipun pola pengelolaan sama.

Interaksi santri yang intens antara empat asrama putri yang berbeda tersebut menyebabkan segala informasi yang baru dan menghebohkan akan sama-sama diketahui, termasuk informasi Gus Prajurit Sampah baru yang tampan itu.

"Gus, ada beberapa surat ini, loh, dari penggemar njenengan." Kang Badri terkikik menunjukkan sebuah surat terlipat origami berbentuk pesawat yang dilemparkan dari lantai dua Asrama Azzubaidah. Tulisan yang tampak menunjukkan tujuan kertas itu, yakni kepada Gus Falih.

Setelah mengambil sampah dari semua asrama, para abdi pondok petugas sampah ini akan memilah-milah dalam beberapa kategori sampah untuk ditindaklanjuti. Kesempatan ini sekaligus adalah waktu bersenda gurau di antara mereka sehingga pekerjaan bisa diselesaikan dengan gembira.

"Waduh, apa saya pensiun dini saja, ya? Bisa jadi fitnah pasukan kita kalau begini terus. Kalau Abah mendengar, nanti kita semua bakal disidang." Gus Falih menjawab tanpa berminat menerima surat pesawat terbang itu.

"Halah, Gus. Tenang saja. Ini sudah biasa tiap ada prajurit baru. Dulu Kang Samsul juga digoda kayak gitu. Padahal, Kang Samsul, ya, jauh dari kategori ganteng. Ya, nggak, Kang Sul?" jawab Kang Badri yang masih terkikik.

"Enak aja aku dibilang jauh dari kategori ganteng. Aku ini mirip bintang Korea Lee Min Ho. Lihat baik-baik potongan rambut dan mata sipitku ini! Kalian itu kurang telaten melihat aku," jawab Kang Samsul sambil mengibaskan poni rambutnya bergaya iklan sampo.

 

Kang Badri makin terkikik. Kang Samsul dan Kang Noval ikut tertawa. Gus Falih diam tak bereaksi. Hati dan pikirannya kacau. Ia merasa ini akan menjadi awal malapetaka. Menjadi idola mungkin bagi beberapa orang adalah impian. Namun, bukankah selalu ada dua sisi untuk setiap hal? Di balik gemilangnya sang idola ada sisi gelap orang lain yang sirik, iri, dan dengki. Gus Falih tidak suka itu.

"Eh, ayo kita baca aja dulu suratnya rame-rame." Kang Noval yang sedari tadi diam mengambil surat-surat dari tangan Kang Badri.

"Lihat pengirimnya aja dulu. Isinya nggak penting." Kang Samsul memberi usul sambil tertawa.

"Iya, benar. Kalau pengirimnya nggak menarik atau nggak jelas, abaikan saja." Kang Noval menimpali.

"Baik. Aku buka, ya." Kang Noval melanjutkan ucapannya sambil membuka lipatan kertas-kertas tersebut.

"Ini dari Asrama Azzainab, Sri Rahayu. Ada yang tahu anaknya kayak gimana?" Kang Noval bertanya.

"Nggak jelas yang mana anaknya. Sudah lewati aja," jawab Kang Samsul.

"Eh, itu kayaknya anak yang dulu nyurati Kang Noval, loh," tukas Kang Badri.

"Oiya, ya. Wah, dia bukan penggemar yang setia. Dulu nyurati aku kok sekarang nyurati Gus Falih." Kang Noval bersungut-sungut.

"Sudah, sudah. Buang semua surat itu. Sini, biar kurobek-robek dulu." Gus Falih akhirnya jengah dan bereaksi atas tingkah konyol teman-temannya. Ia berjalan mendekati Kang Noval dan hendak mengambil surat-surat itu.

"Bentar, Gus. Ini ada yang aneh." Tangan Kang Noval menunjukkan isyarat berhenti.

"Aneh apa?" tanya Gus Falih.

"Ini surat yang berbentuk pesawat terbang dari Asrama Azzubaidah kok dari Ning Alfi?" Kang Noval menunjukkan ekspresi tidak percaya sambil memandangi teman-temannya.

"Hah? Nggak mungkin," sahut Kang Badri yang sedari tadi hanya terkikik atas tingkah pasukannya.

"Ning Alfi siapa, sih?" tanya Gus Falih.

"Itu Ning cuantik, pemegang piala the best terus tiap tahun. Nggak di sekolah, nggak di madrasah diniah, dia terus yang dapat. Dia kelas Syawir sekarang." Kang Badri menjelaskan pada Gus Falih yang tampak penasaran.

Kelas Syawir adalah kelas pascalulus madrasah diniah enam tahun. Tidak semua santri harus melalui enam tahun itu secara penuh. Saat baru masuk mereka akan menjalani serangkaian tes untuk penempatan kelas. Oleh karena itu, banyak santri yang sudah masuk kelas Syawir pada tahun kelima atau sebelum itu karena diterima masuk madrasah diniah bukan kelas 1, terutama yang sudah pernah mondok atau sudah pernah belajar ilmu agama khususnya kitab kuning sejak di rumah. Biasanya mereka diterima di kelas 2, 3, atau 4.

Selain itu, santri kelas Syawir adalah calon ustaz dan ustazah di tahun berikutnya. Ini semacam kelas pengkaderan. Tidak ada lagi materi pelajaran di kelas khusus ini. Mereka hanya sorogan kitab-kitab sesuai jadwal pada Gus Shihab dan Nyai Mahfudzoh selaku guru khusus kelas tersebut. Nyai Mahfudzoh adalah bungsu Mbah Kiai Anwar, bulek-nya Gus Shihab.

 

"Ngapain Ning kayak gitu nyurati aku? Kurang kerjaan banget," jawab Gus Falih tak acuh.

"Sini, biar kurobek semua!" Gus Falih bersikukuh.

"Tunggu, Gus. Ayo, kita baca dulu!" sergah Kang Badri serius.

 

***



[i] Ndalem berarti ‘rumah’ dalam bahasa Jawa. Di pesantren kata ndalem dimaksudkan sebagai rumah pengasuh.

[ii] Gotha’an berarti ‘suatu kamar yang ditempati beberapa santri di pesantren’.

[iii] Dzurriyyah berarti ‘keturunan’. Dalam pesantren, ini digunakan untuk menyebut keturunan kiai yang mengasuh pesantren.

[iv] Su'ul adab berarti ‘berlaku kurang atau tidak baik’. Bisa juga diartikan ‘berperilaku buruk’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar