SURAT CINTA NING ALFIYATUZ ZAHRO'
Layar 2
Surat Kertas Pesawat Terbang
Pesantren Darul Ghuroba' ini usianya sudah
cukup tua. Sejak berdiri hingga sekarang pesantren ini sudah mengelola delapan
asrama. Empat asrama dihuni santri putra. Empat asrama sisanya ditempati santri
putri. Masing-masing asrama memiliki pengasuh, yaitu putra dan putri kiai
sepuh.
Meskipun dianggap sebagai generasi kedua,
tetapi putra dan putri kiai sepuh sudah disiapkan secara matang sebagai penerus
keluarga yang akan memikul amanah dalam mendidik generasi bangsa. Selain itu,
di keluarga ndalem[i] sudah lahir dan tumbuh generasi ketiga dan
keempat. Sama halnya dengan generasi kedua, mereka juga ditempa untuk mengemban
amanah dalam perjuangan mendidik generasi penerus bangsa. Generasi ketiga saat
ini kebanyakan masih kuliah, sekolah, dan beberapa ada yang masih balita,
sedangkan generasi keempat adalah para cicit yang semuanya masih balita.
Dalam mendidik para penerus, kiai sepuh
beserta putra dan putrinya memberikan kebebasan. Beberapa dari mereka ada yang
mondok di tempat lain. Namun, ada juga yang membaur dengan santri dan mengenyam
pendidikan di pesantren sendiri. Bahkan, beberapa dari mereka tinggal di gotha'an
[ii]bersama santri, bersikap dan bertindak sebagai
santri biasa seperti lainnya.
"Gus Falih itu ternyata kawan akrab Gus
Shihab, loh, Ning. Mereka satu angkatan di Ma'had Aly," ujar Nafisah
memulai percakapan dengan Ning Alfi sesudah sorogan kitab Fathul Mu’in di kelas
Syawir.
Mereka berjalan di lorong gedung madrasah
aliyah. Kalau malam, gedung ini beralih fungsi menjadi ruang kelas madrasah
diniah. Dua santri itu terus berjalan menuju kantin induk pesantren.
"Loh, kok bisa update informasi
lagi?" Ning Alfi memandang sahabatnya itu dengan keheranan.
"Tadi habis sorogan aku tanya ke Gus
Shihab," ujar Nafisah dengan bangga.
"Hah? Kamu berani tanya urusan remeh
kayak gitu ke beliau?" Ning Alfi membelalakkan mata saking kagetnya.
Gus Shihab adalah cucu Mbah Kiai Anwar,
pendiri pesantren ini. Beliau masih muda dan jomblo. Salah satu dzurriyyah[iii] yang tinggal di asrama bersama santri dan memiliki
tugas mengajar.
"Iyalah," tukas Nafisah.
"Caramu tanya bagaimana?" Ning Alfi
makin keheranan dengan tingkah Nafisah yang menurutnya su'ul adab[iv].
"Aku bilang kalau njenengan naksir Gus
Falih. Makanya aku titip salam dari njenengan. Eh, Gus Shihab malah bilang
supaya jangan naksir Gus Falih. Malah, terus balik titip salam buat njenengan.
Ning Alfi sama aku saja. Begitu katanya."
Nafisah bicara dengan tampang polos sembari
duduk di bangku panjang kantin.
Tangannya mencomot tahu isi di tangan kiri dan
cabe di tangan kanan seraya menggigit rawit merah itu tanpa memedulikan
ekspresi Ning Alfi.
"Kamu ini isengnya kebangetan. Pantas saja
Gus Shihab senyum-senyum pas nyimak sorogan-ku tadi,” sungut Ning Alfi. “Eh,
itu makan mbok yang sopan, pakai tangan kanan!" Ning Alfi gemas, antara
marah dan tersinggung. Namun, juga ingin tertawa mengingat ekspresi wajah Gus
Shihab.
Diacak-acaknya jilbab Nafisah meskipun gadis
itu sedang menahan pedas karena terlalu banyak makan cabai. Ning Alfi menahan
malu. Pipinya yang putih bersemu merah akibat perasaan campur aduk dalam
hatinya. Kecantikan Ning Alfi memang kondang, baik di kalangan santri putra senior
yang bertugas sebagai ustaz maupun para santri putri.
Sorogan yang dimaksud di pesantren ini adalah
metode pengajaran ala pesantren tradisional. Santri melakukan sorog atau
‘menyetorkan atau menunjukkan kemampuan membaca kitab tertentu langsung di hadapan
guru’. Tujuannya adalah untuk mendapatkan bimbingan secara langsung sesuai
kemampuan santri. Ketika santri salah dalam membaca kitab, guru akan
membetulkan ataupun membacakan langsung di hadapan santri. Metode ini dilakukan
kepada santri satu per satu.
Metode berhadapan langsung seperti ini
sebenarnya adalah metode belajar yang sangat tua, jauh sebelum pesantren
tradisional nusantara menggunakan metode ini. Rasulullah Muhammad SAW juga
melakukan metode ini dalam mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat. Pada
zaman Rasulullah metode ini disebut talaqqi. Maknanya ‘belajar langsung dengan
menghadap guru’. Metode talaqqi juga disebut musafahah.
Berhadapan langsung dengan guru seperti ini
membuat seorang murid atau santri memiliki sanad. Jika setiap murid berhadapan
langsung dengan sang guru lalu guru berhadapan langsung dengan gurunya, maka
akan terus bersambung antara para guru hingga Rasulullah Muhammad SAW. Nabi
Muhammad juga belajar Al-Qur’an secara musafahah dengan Malaikat Jibril. Adapun
malaikat Jibril, mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah sesuai petunjuk Allah
SWT. Oleh karena itu, sanad keilmuan, khususnya Al-Qur'an, adalah sesuatu yang
istimewa. Rantaian tali jiwa keilmuan haqiqi antara murid, guru, hingga pada
mahaguru.
"Sorry, Ning. Jangan marah!" ujar
Nafisah sambil mengipaskan dua tangan di depan mulutnya yang kepedasan. Satu
biji tahu isi ia makan dengan lima biji cabe merah.
"Nafisah kalau usil pikir dulu dong. Kamu
sudah ngisengin Gus Shihab kayak gitu. Su'ul adab, loh. Ingat, kita butuh
berkah kemanfaatan ilmu. Yang sopan sama guru apalagi dzurriyyah," nasihat
Ning Alfi dibalas dengan cengiran.
"Kalau pakai mikir, itu ujian, Ning.
Iseng, ya, iseng aja, nggak perlu pakai mikir," bantahnya sambil tertawa.
"Punya otak dipakai, Fis," sergah
Ning Alfi kesal karena dibantah.
"Dibilangin otakku ini kupakai kalau
ujian. Makanya, rangkingku lumayan di bawah njenengan yang selalu juara
pertama," tukas Nafisah lagi.
"Tauk, ah, gelap bicara sama kamu. Aku
mau pesan tahu campur dulu." Ning Alfi berlalu menuju gerobak tahu campur
kantin.
Meskipun penampakan wajahnya marah, tapi
hatinya tidak. Ia tahu kalau Nafisah memang masih ada hubungan keluarga dengan
ndalem pesantren tempatnya mondok ini. Dengan kata lain, Gus Shihab itu masih
kerabatnya. Itu sebabnya dia berani bercakap-cakap dan bergurau dengan beliau.
Terlebih watak asli mereka berdua memang ramah dan suka bergurau. Sepertinya
keduanya memang menuruni sifat itu dari keluarga ndalem.
Kiai Kamil, pengasuh Asrama Azzainab, adalah
abah Gus Shihab yang memiliki selera humor berdaya hikmah tinggi yang menggugah
para santri saat mengikuti pengajian umum Ihya' Ulumuddin yang beliau asuh.
Orang-orang dengan level kebijaksaan tinggi memang justru banyak memberi
nasihat berat dengan cara ringan, yakni humor.
Meski ada delapan asrama putra dan putri di
pesantren ini, tapi pengajian madrasah diniah dan sekolah tergabung dalam satu
institusi. Semua santri putri dari Asrama Azzubaidah, Azzainab, Azzahrah, dan
Azzakiyah akan saling bertemu dan berinteraksi sehingga ada kerekatan sosial
meski beda asmara, sedangkan santri putra memiliki manajemen terpisah meskipun
pola pengelolaan sama.
Interaksi santri yang intens antara empat
asrama putri yang berbeda tersebut menyebabkan segala informasi yang baru dan
menghebohkan akan sama-sama diketahui, termasuk informasi Gus Prajurit Sampah
baru yang tampan itu.
"Gus, ada beberapa surat ini, loh, dari
penggemar njenengan." Kang Badri terkikik menunjukkan sebuah surat
terlipat origami berbentuk pesawat yang dilemparkan dari lantai dua Asrama
Azzubaidah. Tulisan yang tampak menunjukkan tujuan kertas itu, yakni kepada Gus
Falih.
Setelah mengambil sampah dari semua asrama,
para abdi pondok petugas sampah ini akan memilah-milah dalam beberapa kategori
sampah untuk ditindaklanjuti. Kesempatan ini sekaligus adalah waktu bersenda
gurau di antara mereka sehingga pekerjaan bisa diselesaikan dengan gembira.
"Waduh, apa saya pensiun dini saja, ya?
Bisa jadi fitnah pasukan kita kalau begini terus. Kalau Abah mendengar, nanti
kita semua bakal disidang." Gus Falih menjawab tanpa berminat menerima
surat pesawat terbang itu.
"Halah, Gus. Tenang saja. Ini sudah biasa
tiap ada prajurit baru. Dulu Kang Samsul juga digoda kayak gitu. Padahal, Kang
Samsul, ya, jauh dari kategori ganteng. Ya, nggak, Kang Sul?" jawab Kang
Badri yang masih terkikik.
"Enak aja aku dibilang jauh dari kategori
ganteng. Aku ini mirip bintang Korea Lee Min Ho. Lihat baik-baik potongan
rambut dan mata sipitku ini! Kalian itu kurang telaten melihat aku," jawab
Kang Samsul sambil mengibaskan poni rambutnya bergaya iklan sampo.
Kang Badri makin terkikik. Kang Samsul dan
Kang Noval ikut tertawa. Gus Falih diam tak bereaksi. Hati dan pikirannya
kacau. Ia merasa ini akan menjadi awal malapetaka. Menjadi idola mungkin bagi
beberapa orang adalah impian. Namun, bukankah selalu ada dua sisi untuk setiap
hal? Di balik gemilangnya sang idola ada sisi gelap orang lain yang sirik, iri,
dan dengki. Gus Falih tidak suka itu.
"Eh, ayo kita baca aja dulu suratnya
rame-rame." Kang Noval yang sedari tadi diam mengambil surat-surat dari
tangan Kang Badri.
"Lihat pengirimnya aja dulu. Isinya nggak
penting." Kang Samsul memberi usul sambil tertawa.
"Iya, benar. Kalau pengirimnya nggak
menarik atau nggak jelas, abaikan saja." Kang Noval menimpali.
"Baik. Aku buka, ya." Kang Noval
melanjutkan ucapannya sambil membuka lipatan kertas-kertas tersebut.
"Ini dari Asrama Azzainab, Sri Rahayu.
Ada yang tahu anaknya kayak gimana?" Kang Noval bertanya.
"Nggak jelas yang mana anaknya. Sudah
lewati aja," jawab Kang Samsul.
"Eh, itu kayaknya anak yang dulu nyurati
Kang Noval, loh," tukas Kang Badri.
"Oiya, ya. Wah, dia bukan penggemar yang
setia. Dulu nyurati aku kok sekarang nyurati Gus Falih." Kang Noval
bersungut-sungut.
"Sudah, sudah. Buang semua surat itu.
Sini, biar kurobek-robek dulu." Gus Falih akhirnya jengah dan bereaksi
atas tingkah konyol teman-temannya. Ia berjalan mendekati Kang Noval dan hendak
mengambil surat-surat itu.
"Bentar, Gus. Ini ada yang aneh."
Tangan Kang Noval menunjukkan isyarat berhenti.
"Aneh apa?" tanya Gus Falih.
"Ini surat yang berbentuk pesawat terbang
dari Asrama Azzubaidah kok dari Ning Alfi?" Kang Noval menunjukkan
ekspresi tidak percaya sambil memandangi teman-temannya.
"Hah? Nggak mungkin," sahut Kang
Badri yang sedari tadi hanya terkikik atas tingkah pasukannya.
"Ning Alfi siapa, sih?" tanya Gus
Falih.
"Itu Ning cuantik, pemegang piala the
best terus tiap tahun. Nggak di sekolah, nggak di madrasah diniah, dia terus
yang dapat. Dia kelas Syawir sekarang." Kang Badri menjelaskan pada Gus
Falih yang tampak penasaran.
Kelas Syawir adalah kelas pascalulus madrasah
diniah enam tahun. Tidak semua santri harus melalui enam tahun itu secara
penuh. Saat baru masuk mereka akan menjalani serangkaian tes untuk penempatan
kelas. Oleh karena itu, banyak santri yang sudah masuk kelas Syawir pada tahun
kelima atau sebelum itu karena diterima masuk madrasah diniah bukan kelas 1,
terutama yang sudah pernah mondok atau sudah pernah belajar ilmu agama
khususnya kitab kuning sejak di rumah. Biasanya mereka diterima di kelas 2, 3,
atau 4.
Selain itu, santri kelas Syawir adalah calon
ustaz dan ustazah di tahun berikutnya. Ini semacam kelas pengkaderan. Tidak ada
lagi materi pelajaran di kelas khusus ini. Mereka hanya sorogan kitab-kitab
sesuai jadwal pada Gus Shihab dan Nyai Mahfudzoh selaku guru khusus kelas
tersebut. Nyai Mahfudzoh adalah bungsu Mbah Kiai Anwar, bulek-nya Gus Shihab.
"Ngapain Ning kayak gitu nyurati aku?
Kurang kerjaan banget," jawab Gus Falih tak acuh.
"Sini, biar kurobek semua!" Gus
Falih bersikukuh.
"Tunggu, Gus. Ayo, kita baca dulu!"
sergah Kang Badri serius.
***
[i] Ndalem berarti
‘rumah’ dalam bahasa Jawa. Di pesantren kata ndalem dimaksudkan sebagai rumah
pengasuh.
[ii] Gotha’an
berarti ‘suatu kamar yang ditempati beberapa santri di pesantren’.
[iii] Dzurriyyah
berarti ‘keturunan’. Dalam pesantren, ini digunakan untuk menyebut keturunan
kiai yang mengasuh pesantren.
[iv] Su'ul adab
berarti ‘berlaku kurang atau tidak baik’. Bisa juga diartikan ‘berperilaku
buruk’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar